28 Januari 2017,…
Mengangislah engkau
adikku jauh di belakang ayah tapi jangan sesekali engkau menangis di hadapnya.
Itulah penggalan kalimat yang disimpan bersama semangatku menitih karir.
Ayah, betapa ingin
aku untuk menyedu secangkir teh buatan ibu bersamamu. Sayang, cangkir itu kini
sudah kosong dan berdebu. Kini putera kecil kebanggaanmu telah dewasa. Ia bekerja
sebagai pelayan negara. Restui setiap langkahnya, cukup engkau doakan aku dalam
hatimu tanpa ragu.
Ayah untuk sekedar
engkau ketahui. Awalnya aku pun berat melakoni pekerjaan ini. Aku menjalaninya
dengan mengadaptasi caramu dulu saat bekerja. Mulai dari pakaianmu yang selalu rapi
namun tetap sederhana, kehadiranmu yang selalu tepat waktu dan juga sifatmu
yang tak pernah ambil pusing terhadap mereka yang mencelamu. Semua itu aku
lakukan hasil menyontek kebiasaanmu.
Ayah mengapa engkau
berbohong kepadaku. Setiap pulang dari kantor, engkau selalu tersenyum dan
tidak pernah terlihat gelisah. Mengapa engkau selalu ingin terlihat bahagia di
hadapan kami semua. Seolah-olah engkau tak punya masalah ataupun beban. Dulu
mungkin saja engkau berbohong kepadaku. Engkau bilang pekerjaanmu mulus-mulus
saja tanpa punya masalah dengan orang lain. Tak mungkin ayah, sekian banyak
karakter manusia yang engkau pimpin, mana mungkin engkau
tak punya masalah. Kini di kantorku hanya ada 14
karakter manusia lainnya, tapi itu saja aku terkadang sulit menahan rasa amarah,
kecewa, lelah bahkan menyesal.
Ayah, usiamu akan
masuk 65 tahun. Sejak 2012 ayah berjuang melawan penyakit. Disaat seperti ini,
kita masih harus terpisah oleh jarak. Saat pulang nanti, bolehkah ananda
menempelkan keningku dibibirmu? Ananda rindu untuk engkau manja seperti dulu. Saat
kita bertemu nanti, ayah tidak usah lagi berjalan menyambut kehadiranku untuk
pulang. Cukup aku disambut dengan senyum terbaik yang selama ini engkau berikan
untuk kami.
Melakoni pekerjaan
sebagai seorang pelayan tidaklah mudah dan tidak juga sulit. Semua itu
bergantung pada komitmen dan tanggung jawab yang dimiliki. Mungkin ini jawaban
atas senyummu dulu. Engkau bilang tidak punya musuh di kantor bahkan semua
orang sayang kepadamu. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Engkau hanya bilang
bahwa ketika kita punya musuh artinya jangan kita jauhi akan tetapi dekati
karena ia belum mengenalmu saja. Saat ini aku mulai belajar untuk mengenal
mereka ayah. Persahabatan pun harus kami mulai. Mungkin ini adalah keluarga
baruku. Untuk itu restui ananda sekali lagi melakoni peran sebagai abdi negara.
Baiklah, sejenak aku
tinggalkan kisahku di kantor. Sekarang aku akan bercerita tentang keresahanku
kepadamu. Ayah, di usiamu yang senja ini engkau masih sangat ceria. Kapan
engkau menangis, kami pun tidak tahu. Apakah diam-diam engkau menghapus tetesan
air mata tanpa kami ketahui? Sekali lagi kami terkecoh kalau begitu. Engkau
selalu curang dan tidak mau berbagi masalahmu dengan kami.
Cerita keresahan ini
dimulai saat aku selesai sidang akhir. Ayah masih ingat dengan janjimu akan
datang ke wisudaku pada saat itu? Tapi ayah berbohong, ayah tidak hadir
menggunakan baju terbaik yang ayah miliki. Ayah lebih memilih tinggal di rumah
dan membiarkan ibu pergi sendiri ke Bandung. Ayah jangan marah, aku hanya
bercanda. Ayah selalu luar biasa bagiku. Bukan keinginanmu untuk tidak hadir.
Aku yakin dalam tarikan nafasmu sekalipun pasti engkau selalu mendoakan yang
terbaik buat putera kebanggaanmu ini.
Keresahan
pertamaku adalah wisuda tanpa kehadiranmu. Bagaimana mungkin kebahagianku
terasa sempurna tanpa kedua malaikatku berada disini. Suatu hari nanti kita akan
berpisah, entah aku, ayah atau ibu yang duluan menghadap kepadaNya. Jika hari
itu tiba semoga kelak kita akan dipertemukan kembali di surgaNya amin