Minggu, 24 September 2017

Bingkisan Kalbu untuk Ayah (lanjutan)

28 Januari 2017,…
Mengangislah engkau adikku jauh di belakang ayah tapi jangan sesekali engkau menangis di hadapnya. Itulah penggalan kalimat yang disimpan bersama semangatku menitih karir.

Ayah, betapa ingin aku untuk menyedu secangkir teh buatan ibu bersamamu. Sayang, cangkir itu kini sudah kosong dan berdebu. Kini putera kecil kebanggaanmu telah dewasa. Ia bekerja sebagai pelayan negara. Restui setiap langkahnya, cukup engkau doakan aku dalam hatimu tanpa ragu.

Ayah untuk sekedar engkau ketahui. Awalnya aku pun berat melakoni pekerjaan ini. Aku menjalaninya dengan mengadaptasi caramu dulu saat bekerja. Mulai dari pakaianmu yang selalu rapi namun tetap sederhana, kehadiranmu yang selalu tepat waktu dan juga sifatmu yang tak pernah ambil pusing terhadap mereka yang mencelamu. Semua itu aku lakukan hasil menyontek kebiasaanmu.

Ayah mengapa engkau berbohong kepadaku. Setiap pulang dari kantor, engkau selalu tersenyum dan tidak pernah terlihat gelisah. Mengapa engkau selalu ingin terlihat bahagia di hadapan kami semua. Seolah-olah engkau tak punya masalah ataupun beban. Dulu mungkin saja engkau berbohong kepadaku. Engkau bilang pekerjaanmu mulus-mulus saja tanpa punya masalah dengan orang lain. Tak mungkin ayah, sekian banyak karakter manusia yang engkau pimpin, mana mungkin engkau tak punya masalah. Kini di kantorku hanya ada 14 karakter manusia lainnya, tapi itu saja aku terkadang sulit menahan rasa amarah, kecewa, lelah bahkan menyesal.

Ayah, usiamu akan masuk 65 tahun. Sejak 2012 ayah berjuang melawan penyakit. Disaat seperti ini, kita masih harus terpisah oleh jarak. Saat pulang nanti, bolehkah ananda menempelkan keningku dibibirmu? Ananda rindu untuk engkau manja seperti dulu. Saat kita bertemu nanti, ayah tidak usah lagi berjalan menyambut kehadiranku untuk pulang. Cukup aku disambut dengan senyum terbaik yang selama ini engkau berikan untuk kami.

Melakoni pekerjaan sebagai seorang pelayan tidaklah mudah dan tidak juga sulit. Semua itu bergantung pada komitmen dan tanggung jawab yang dimiliki. Mungkin ini jawaban atas senyummu dulu. Engkau bilang tidak punya musuh di kantor bahkan semua orang sayang kepadamu. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Engkau hanya bilang bahwa ketika kita punya musuh artinya jangan kita jauhi akan tetapi dekati karena ia belum mengenalmu saja. Saat ini aku mulai belajar untuk mengenal mereka ayah. Persahabatan pun harus kami mulai. Mungkin ini adalah keluarga baruku. Untuk itu restui ananda sekali lagi melakoni peran sebagai abdi negara.

Baiklah, sejenak aku tinggalkan kisahku di kantor. Sekarang aku akan bercerita tentang keresahanku kepadamu. Ayah, di usiamu yang senja ini engkau masih sangat ceria. Kapan engkau menangis, kami pun tidak tahu. Apakah diam-diam engkau menghapus tetesan air mata tanpa kami ketahui? Sekali lagi kami terkecoh kalau begitu. Engkau selalu curang dan tidak mau berbagi masalahmu dengan kami.

Cerita keresahan ini dimulai saat aku selesai sidang akhir. Ayah masih ingat dengan janjimu akan datang ke wisudaku pada saat itu? Tapi ayah berbohong, ayah tidak hadir menggunakan baju terbaik yang ayah miliki. Ayah lebih memilih tinggal di rumah dan membiarkan ibu pergi sendiri ke Bandung. Ayah jangan marah, aku hanya bercanda. Ayah selalu luar biasa bagiku. Bukan keinginanmu untuk tidak hadir. Aku yakin dalam tarikan nafasmu sekalipun pasti engkau selalu mendoakan yang terbaik buat putera kebanggaanmu ini.

Keresahan pertamaku adalah wisuda tanpa kehadiranmu. Bagaimana mungkin kebahagianku terasa sempurna tanpa kedua malaikatku berada disini. Suatu hari nanti kita akan berpisah, entah aku, ayah atau ibu yang duluan menghadap kepadaNya. Jika hari itu tiba semoga kelak kita akan dipertemukan kembali di surgaNya amin