Senin, 01 Juli 2013

Kenangan Masa Kecil

Hidup Layaknya Roda yang Berputar

Di kala aku masih berada di kampung. Aku memiliki seorang teman yang luar biasa. Panggil Ia dengan sebutan Imah. Mungkin sebagian temanku mulai lupa denganya. Tidak tertutup kemungkinan bagiku juga.

Saat pertama kali aku merasakan dunia pendidikan. Di bangku sekolah dasar, hampir setiap hari aku bermain bersama Imah. Ya, dia seorang gadis berkepribadian sahaja. Saat itu Ia masih berkecukupan dan paling pintar di kelas. Setiap pembagian rapor, Ia selalu rangking pertama.

Tapi aku tidak pernah merasa rendah diri untuk bermain bersama Imah. Walaupun ayahku hanya seorang guru, dan hidup kami pas-pasan saja, tetapi mengapa tidak untukku selalu mengajak Imah untuk berdiskusi mengenai pelajaran. Justru, menjadi seorang anak guru membuatku mengerti dan memahami bahwa ilmu itu patut dan berharga untuk dicari.

Hari-hari aku habiskan bermain bersama Imah. Sesekali Imah ke rumah kami. Dulu, aku tinggal di rumah kayu yang mana kalau hujan atapnya bocor, tetapi tetap kami syukuri. Disana, aku bersama Imah serta beberapa teman lainnya sering bersama. Bersama untuk belajar, bersama untuk bermain, dan bersama untuk menjadi sahabat.

Masa itu masa yang indah menurutku. Imah mengajari banyak kepadaku. Menjadi orang kaya kita tidak harus sombong. Mengapa? Kekayaan tidak ada yang bersifat abadi, dan suatu hari kita juga bisa menjadi orang yang berkecukupan. Tidak terasa selama 6 tahun kebersamaan kami.


Imah pun melanjutkan pendidikanya ke salau satu Pesantren ternama di Sumatra Barat. Dan aku melanjutkan pendidikan ke SMP yang berada di samping SD ku dulu. Tak apa-apa, yang penting aku bisa melanjutkan pendidikan.

Bertahun-tahun lamanya aku melupakan kebersamaan bersama Imah. Dan hari itu, di saat aku diterima di salah satu Universitas di kota kembang aku teringat akan Imah. Ingin rasanya mengetahui dimana Imah sekarang melanjutkan pendidikan.

Namu teman, saat aku mengetahui berita tentangnya, sedih rasanya dan aku terharu dengan pengorbananya. Dulu Ia memang berkecukupan, tetapi Tuhan kini mengujinya. Keluarganya dirunut beberapa masalah dan mereka kini berada dalam garis kemiskinan.

Tapi aku belajar banyak dari Imah, walau kini Ia kekurangan tak lantas membuat Imah menjadi lemah. Ya, kebanyakan orang kaya ketika jatuh miskin jadi setres dan tak tahu arah. Namun beda dengan temanku Imah.

Imah memiliki adik yang banyak. Kini bersama Ibunya Imah menata kehidupan mereka. Imah harus merelakan pendidikanya berhenti. Ia menggantikan Ibunya yang sakit-sakitan untuk berdagang. Ia rela untuk tidak melanjutkan pendidikanya. Dengan maksud, Ia harus berusaha keras menyekolahkan adik-adiknya dan bisa menjadi orang berguna. Ia rela mengorbankan masa depanya, kuliahnya, dan kepintarannya untuk keluarga kecilnya.

Kini Imah hanya seorang pedagang yang dapat aku temui di kampungku sana. Tapi justru disini aku menilai Imah merupakan sosok pintar. Mengapa? Walaupun Ia hanya pedagang, namun niat tulus untuk menyekolahkan adik-adiknya merupakan sesuatu yang luar biasa. Ia tak ingin adiknya merasakan penderitaan yang sama denganya. Baginya kehidupan itu adalah roda yang berputar.


Dulu mungkin Ia dikenal dengan sosok sempurna, selain kaya, Ia juga pintar. Melalui cerita hidup Imah aku mencoba menghadapi hidupku sendiri. Siapa yang tahu dengan kita hari esok. Kadang kita di atas dan kadang kita di uji Tuhan berada di bawah.

Doa ku tetapi satu. Dalam kondisi apapun. yang jelas aku harus bisa membahagiakan orangtuaku. Semoga suatu hari nanti aku bisa mewujudkan harapan orangtuaku. Menjadi salah seorang wisudawan dengan IPK terbaik dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan kami. Tetap semangat Imah, kami ada untukkmu. Dan aku yakin kepintaranmu akan selalu berfungsi. Karena ilmu tidak akan pernah habis. Selagi bisa, selalu berikan aura positif bagi siapapun yang mengenalmu.