Hidup
Layaknya Roda yang Berputar
Di kala aku masih
berada di kampung. Aku memiliki seorang teman yang luar biasa. Panggil Ia
dengan sebutan Imah. Mungkin sebagian temanku mulai lupa denganya. Tidak tertutup
kemungkinan bagiku juga.
Saat pertama kali aku
merasakan dunia pendidikan. Di bangku sekolah dasar, hampir setiap hari aku
bermain bersama Imah. Ya, dia seorang gadis berkepribadian sahaja. Saat itu Ia
masih berkecukupan dan paling pintar di kelas. Setiap pembagian rapor, Ia
selalu rangking pertama.
Tapi aku tidak pernah
merasa rendah diri untuk bermain bersama Imah. Walaupun ayahku hanya seorang
guru, dan hidup kami pas-pasan saja, tetapi mengapa tidak untukku selalu
mengajak Imah untuk berdiskusi mengenai pelajaran. Justru, menjadi seorang anak
guru membuatku mengerti dan memahami bahwa ilmu itu patut dan berharga untuk
dicari.
Hari-hari aku habiskan
bermain bersama Imah. Sesekali Imah ke rumah kami. Dulu, aku tinggal di rumah
kayu yang mana kalau hujan atapnya bocor, tetapi tetap kami syukuri. Disana,
aku bersama Imah serta beberapa teman lainnya sering bersama. Bersama untuk
belajar, bersama untuk bermain, dan bersama untuk menjadi sahabat.
Masa itu masa yang
indah menurutku. Imah mengajari banyak kepadaku. Menjadi orang kaya kita tidak
harus sombong. Mengapa? Kekayaan tidak ada yang bersifat abadi, dan suatu hari
kita juga bisa menjadi orang yang berkecukupan. Tidak terasa selama 6 tahun
kebersamaan kami.
Imah pun melanjutkan
pendidikanya ke salau satu Pesantren ternama di Sumatra Barat. Dan aku
melanjutkan pendidikan ke SMP yang berada di samping SD ku dulu. Tak apa-apa,
yang penting aku bisa melanjutkan pendidikan.
Bertahun-tahun lamanya
aku melupakan kebersamaan bersama Imah. Dan hari itu, di saat aku diterima di
salah satu Universitas di kota kembang aku teringat akan Imah. Ingin rasanya
mengetahui dimana Imah sekarang melanjutkan pendidikan.
Namu teman, saat aku
mengetahui berita tentangnya, sedih rasanya dan aku terharu dengan
pengorbananya. Dulu Ia memang berkecukupan, tetapi Tuhan kini mengujinya. Keluarganya
dirunut beberapa masalah dan mereka kini berada dalam garis kemiskinan.
Tapi aku belajar banyak
dari Imah, walau kini Ia kekurangan tak lantas membuat Imah menjadi lemah. Ya,
kebanyakan orang kaya ketika jatuh miskin jadi setres dan tak tahu arah. Namun beda
dengan temanku Imah.
Imah memiliki adik yang
banyak. Kini bersama Ibunya Imah menata kehidupan mereka. Imah harus merelakan
pendidikanya berhenti. Ia menggantikan Ibunya yang sakit-sakitan untuk
berdagang. Ia rela untuk tidak melanjutkan pendidikanya. Dengan maksud, Ia harus
berusaha keras menyekolahkan adik-adiknya dan bisa menjadi orang berguna. Ia rela
mengorbankan masa depanya, kuliahnya, dan kepintarannya untuk keluarga
kecilnya.
Kini Imah hanya seorang
pedagang yang dapat aku temui di kampungku sana. Tapi justru disini aku menilai
Imah merupakan sosok pintar. Mengapa? Walaupun Ia hanya pedagang, namun niat
tulus untuk menyekolahkan adik-adiknya merupakan sesuatu yang luar biasa. Ia tak
ingin adiknya merasakan penderitaan yang sama denganya. Baginya kehidupan itu
adalah roda yang berputar.
Dulu mungkin Ia dikenal
dengan sosok sempurna, selain kaya, Ia juga pintar. Melalui cerita hidup Imah
aku mencoba menghadapi hidupku sendiri. Siapa yang tahu dengan kita hari esok. Kadang
kita di atas dan kadang kita di uji Tuhan berada di bawah.
Doa ku tetapi satu. Dalam
kondisi apapun. yang jelas aku harus bisa membahagiakan orangtuaku. Semoga suatu
hari nanti aku bisa mewujudkan harapan orangtuaku. Menjadi salah seorang
wisudawan dengan IPK terbaik dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan
kami. Tetap semangat Imah, kami ada untukkmu. Dan aku yakin kepintaranmu akan
selalu berfungsi. Karena ilmu tidak akan pernah habis. Selagi bisa, selalu
berikan aura positif bagi siapapun yang mengenalmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar