Biadap di Negeriku
Kulit tak bertulang
Nyawa yang teronggok
Kaku tanpa ekspresi
Reruntuhan begitu nyata dan dekat
Hingga jatuh berkeping-keping
Nyawa yang dulu nyala
Kini
tak sanggup berdaya
Harta
yang kita punya
Kini
habis ditelan dunia
Tuhan begitu bosan
Tanpa ada sesal
Semua rata oleh kebiadaban
Jeritanpun menjadi tautan
Yang bernyala ditengah rentetan
Tuhan
mulai menjauh
Sulit
dijangkau
Oleh
yang lengah
Kini
hanya duri-duri yang berkeping
Melonjak
datang menghampiri
Mengapa
waktu mudah berubah?
Lari
tanpa maksud
Mengejar
semua yang tak pasti
Sungguh
itu biadab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar