Kamis, 27 Juni 2013

Tulisan Pertama untuk Ayah

Bingkisan Kalbu untuk Ayah

Malam yang indah bagi seluruh umat manusia di belahan dunia bagian timur. Termasuk bagi seorang remaja seperti aku. Panggil saja aku dengan sebutan Ricky. Aku di besarkan dalam keluarga sederhana yang harmonis. Tak perlu keju atau susu menemani makan malam kami. Cukup dengan air putih, nasi , dan sebuah lauk saja, semuanya sudah cukup.

Kisahku dimulai saat aku berada di bangku perkuliahan..,

Di salah satu universitas ternama di kota kembang, aku memulai kehidupan. Aku salah satu mahasiswa fakultas hukum angkatan 2011. Hobby ku sederhana, berkumpul bersama teman-teman dan berbagi pengalaman. Saat asyik bercerita, seorang teman melihatkanku pada sebuah kertas yang diambilnya dari mading kampus. Mading itu dikenal dengan sebutan mading vonis, salah satu unit kegiatan di fakultasku.

Disana, terpampang sebuah pengumuman kompetisi debat. Saat itu, aku merasa malu dan tak patut bersaing di kompetisi yang bergengsi ini, ya karena aku hanya anak daerah dari kota kecil. Tapi berkat motivasi dari teman-teman, aku pun mencobanya. Dibantu oleh dua rekan satu tim, kami pun mulai berlatih mempersiapkan lomba tersebut. Ini adalah kompetisi lomba debat hukum nasional. Dan penyelenggaranya adalah Universitas Trisakti yaitu dalam rangka memperebutkan piala Alm. Prof. Budi Harsono, Bapak Agraria Indonesia.

Tepat sehari sebelum kompetisi, kami di hadapkan pada sebuah masalah klasik. Salah seorang temanku ingin mengundurkan diri. Alasanya sangat sederhana, yaitu tidak nyaman lagi dengan rekanku yang lain. Alhasil, aku hanya menjadi tumbal perasaan mereka. Namun aku tidak berdiam diri saja, aku coba membujuknya kembali. Dan hasilnya, Ia pun mencoba untuk tetap bertahan. Syukurlah, satu masalah sudah terselesaikan.

Di malam yang sama, tanpa sepengetahuanku. Ayah, sosok yang selalu berjuang untuk aku dan keluarga, mendapatkan musibah. Sosok tegar itu diserang sebuah penyakit. Penyakit itu dikenal dengan sebutan stroke. Malam itu ayah dilarikan ke ibu kota provinsiku, sebut saja Pekanbaru. Jaraknya kurang lebih 4 jam dari kota kecil kami. Di perjalanan ayah berpesan, “ Jangan pernah beri tahu Ricky apa yang terjadi pada ayah, biarkan ia menyelesaikan kegiatanya ”.  dan malam itu, ibu berjanji untuk merahasiakanya dariku.

Pagi menjelang, ditemani suara kokokan ayam. Aku sibuk menyiapkan baju yang akan digunakan untuk lomba nanti. Mata ini hanya tertuju pada baju batik pemberian ayah. Entah kenapa hari itu aku ingin menggunakannya. Dan ternyata hal ini selaras dengan dua rekan setimku. Mereka juga menggunakan baju batik dengan bawahan celana bahan hitam.

Kompetisi akan segera dimulai. Sebelumnya kami berdoa agar diberi kelancaran. Perlahan bahuku dipegang salah seorang panitia, ternyata ini saatnya giliran kami untuk bertanding. Pada gelombang pertama, kami menghadapi senior. Hanya berbekal kepada keyakinan dan usaha, kami mencoba menghadapi kompetisi ini dengan maksimal.

Waktu tak terasa, hingga sore menjelang kompetisipun telah usai digelar. Kini kami hanya menunggu untuk sebuah pengumuman, tim mana yang berhak mewakili fakultas hukum ini untuk berlaga di tingkat Nasional. Harapanku saat itu adalah semoga kami yang mewakilinya. Sebelum pengumuman berlangsung, aku mencoba menelepon ibu. Namun saat itu aku tidak lagi mendengar suara ayah. Dan aku bertanya, “ Ibu, kemana ayah? Mengapa ayah enggan bicara pada Ricky? Apakah Ricky berbuat salah pada ayah? “ dan Ibu menjawab, “ oh ayah sedang sibuk, dan juga suara ayah lagi habis, nanti kalau dia rindu Ricky, ayah bakal menghubungi Ricky”. Dan aku pun dengan polos menerima perkataan ibu saat via telpon tersebut terjadi.

“Ricky ayo, pengumuman akan dimulai beberapa menit lagi”, sahut salah seorang rekan satu tim ku. Dan kami pun bergegas ke ruang pengumuman. Di dalam hati, kami telah mengikhlaskan semuanya. Menang kalah itu urusan nanti, yang penting telah mencoba. Detik-detik pengumuman  telah terasa. Dan hal terindah saat itu, tim Hans Kelsen di umumkan sebagai pemenang. Itu adalah nama tim kami. Hari ini hari bahagia bagi kami bertiga. Terkhususnya bagi aku. Ingin segera aku mengabari pada Ibu bahwa aku berhasil mewakili kampus untuk berkompetisi di tingkat Nasional.

Telepon genggamku menjadi saksi bisu percakapan antara aku dan ibu. Saat itu, Ibu mencoba memberikan selamat atas apa yang aku peroleh. Dan ibu menunjukkan rasa bahagianya. Namun, tanpa sepengetahuanku, di dalam hati ibu menangis. Menurutnya, ucapan ayah benar, ayah tak ingin konsentrasi anaknya terbagi saat itu. Ayah ingin anaknya dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita anaknya selama ini. Kini hal itu terwujud. Ibu semakin yakin untuk merahasiakan kondisi ayah dari ku.

Lebih kurang selama sebulan, aku mempersiapkan semua perjalananku untuk kompetisi nantinya. Bersama rekan satu tim dan beberapa senior, kami dilatih untuk lebih matang menghadapi kompetisi. Dan selama itu juga, aku tertipu dengan kondisi yang ada. Ayah, sosok yang aku kagumi selama itu berjuang untuk hidupnya di ruang yang berbeda.

Walau hanya terbaring di atas kasur, kata ibu, ayah tidak pernah berhenti berdoa. Walaupun suara dan ucapan ayah tak jelas, tapi ibu percaya, ayah ingin mengucapkan salam rindunya dan doa serta ucapan semangat padaku. Salam ayah disampaikan oleh Ibu dengan caranya sendiri. Alhasil, aku lagi-lagi tertipu.
Hari kompetisi semakin dekat, aku lagi-lagi ingin berbicara pada ayah. Kali ini, ibu berbohong lagi, tetapi dengan caranya yang lain. Sebelum aku bertanya dimana ayah. Ibu langsung mengabari bahwa ayah lagi tidur. Yang ada aku hanya berbicara pada Ibu, dan aku meminta doa restu dari ibu.

Kompetisi dimulai. Seluruh universitas di Indonesia mengikuti ajang ini. Harapanku sangat besar, menjadi yang terbaik di dalam kompetisi ini. Semangat kami telah berkobar, yang ada di hadapanku adalah senyum terbaik dari kedua orangtuaku untuk hasil yang akan aku capai.

Lebih kurang 3 hari kami berkompetisi. Hari ini akan di umumkan pemenangya. Di babak final lomba debat hukum nasional ini, universitas kami berhadapan dengan salah satu fakultas hukum di Jakarta. Tepat pada pukul 21.00 WIB, panitia mengumumkan hasilnya. Jantung serasa mau copot. Bagiku ini hidup mati atas perjuangan yang kami lalui. Aku tidak yakin dengan hasilnya, namun Tuhan berkata lain. Kesempatan menjadi yang terbaik Tuhan berikan kepada kami. Saat itu, perasaanku sudah tak karuan. Senang menjadi pemenang, dan bangga dengan proses yang kami lalui.

Aku merasa ada hal yang luput dari ingatakan ku. Ya benar sekali, aku belum mengabari kabar bahagia ini pada orangtuaku. Malam itu menjadi saksi kesedihanku. Aku mulai menitihkan air mata, tak tahu apakah itu karena kabar kebahagiaan kami atau mendengar kabar dari Ibu. Sampai hari ini aku masih merekam pembicaraan Ibu via telepon,

“..., selamat anakku, Ibu dan ayah bangga pada usahamu. Hargai waktu yang kamu korbankan selama ini, dan tetaplah menjadi kebanggaan kami. Tapi ada suatu hal yang Ibu tak bisa lagi rahasiakan darimu.”
Spontan aku terdiam, lalu aku bertanya kepada Ibu, “ Ada apa Ibu, apakah ada kaitanya dengan keluarga kita.” Dan Ibu kembali menjawab,

“Ibu minta maaf, selama ini kami mencoba menutupinya dari Ricky. Ayah meminta kami untuk merahasiakannya. Tepat disaat Ricky menjadi wakil kampus untuk berkompetisi di Nasional, selama itu juga ayah berjuang menghadapi hidupnya. Kini ayah hanya berbaring di rumah. Ayah terkena penyakit stroke. Semua badan ayah tidak bisa di gerakkan. Badan ayah semakin kurus, ayah sangat merindukkan Ricky. Bolehkah ibu berharap satu hal dari Ricky? “.  Ibu melontarkan kembali pertanyaan kepadaku. Dan aku pun mempersilahkan Ibu untuk kembali melanjutkan pertanyaanya.

“Pulanglah nak, ayah sangat merindukan Ricky. Beri motivasi pada ayah. Kami disini udah berkumpul. Kakak udah di rumah, hanya Ricky yang belum menemui ayah. Ricky tidak merindukan ayah nak? Ibu yakin riki pasti merindukannya? Belilah tiket pulang dengan hadiah yang riki peroleh, Ibu harap itu cukup.”

Saat itu juga aku terdiam, tanpa aku sadari air mataku jatuh dan membasahi pipi ini. Sampai hari ini, aku masih teringat saat akan kejadian itu. Sepulangnya dari Jakarta, aku langsung memesan tiket pesawat untuk balik ke Riau. Yang terpenting saat itu adalah kondisi ayah. Aku harus membungkus rasa bahagia sementara waktu, karena kebahagian utamaku menunggu di rumah sederhana kami, yaitu Ayah.

12 November 2013

Kini aku telah sampai di kampung halaman tempat aku di besarkan. Tak ada yang berubah dari rumaku. Hanya rumput di halaman rumaku semakin tinggi. Aku yakin Ibu belum sempat memikirkan hal itu. Karena, hal terbesar yang dipikirkan saat ini adalah kesembuhan ayah.

Setibanya di rumah. Aku disambut dengan hangat oleh kelaurgaku. Ibu terlihat sedih tetapi mencoba untuk tidak melihatkan rasa sedihnya padaku. Ibu mengambil tanganku, dan mengajak ku kepada sebuah ruangan. Disana ada ayah, sosok yang kuat tapi saat itu hanya bisa terbaring di kasur kesayanganku.

Aku mencium kening ayah. Ayah terbangun dari tidurnya. Aku berusaha menutup rasa sedih ini degan memberikan sebuah senyuman. Aku lihat, ayah menangis. Matanya dibasahi oleh air. Tapi aku tetap menjaga rasa sakit ini dengan tersenyum.

Aku sapa ayah. Dan aku berikan ayah sebuah kado. Tepat di dalam ranselku, aku telah membawa kado pertama untuk ayah. Sebuah piala, ya itu piala lomba debat kemarin. Aku minta ayah untuk menciumnya, dan aku katakan kepada ayah, “ Ini perjuangan kita ayah, bukan hanya Ricky saja yang berjuang tetapi juga ayah. Jika Ricky tahu kondisi ayah saat itu, mungkin Ricky akan batalkan mengikuti lomba ini. Terimakasih ayah telah berjuang luar biasa untuk putranya. Riki akan bertekat membawa kado-kado lain untuk ayah” lalu aku cium kembali kening ayah. Dan aku pun meminta ayah untuk beristirahat kembali.

Malam kian terasa. Aku hanya tertunduk lemas pada kondisi yang ada. Tapi rasa ini tak mungkin ku ungkapkan pada Ayah ataupun Ibu. Kata siapa, anak bungsu anak manja. Aku tak menggunakan slogan ini untuk saat itu. Aku harus menggantikan peran ayah. Mengantarkan Ibu ke pasar. Menjalankan pekerjaan ayah di rumah dan sebagainya.

Lebih seminggu aku meninggalkan bangku perkuliahan untuk bersama keluarga kecilku di kampung. Tapi, ayah meminta aku untuk kembali ke Bandung. Ayah tak ingin aku lama-lama meninggalkan kampus. Perubahan pada ayah dapat aku rasakan. Kini, ayah sudah mulai banyak makan dan berat badannya bertambah.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengikhlaskan semuanya. Aku bisikkan pada telinga Ibu untuk tetap tegar dan mengikhlaskan kondisi yang ada. Ini rencana Tuhan, dan akan indah pada waktunya. Ibu mengungkapkan rasa sedihnya pada ku. Ibu mengatakan bahwa keluarga ayah 2 orang telah meninggal diikarenakan sakit. Dan kini ibu menjadi takut kehilangan ayah.

Aku mencoba memberikan semangat pada ibu. Aku katakan pada ibu, ayah akan selalu berada di samping kita. Dan aku menitipkan peran ayah kepada Ibu. Dan aku yakinkan pada ibu terbaik di dunia ini, untuk mampu menjadi sosok mandiri dan tabah. Hari itu pun aku kembali ke Bandung. Sebelumnya aku kecup kening ayah dan aku tahan agar air mata ini tidak jatuh ke wajahnya.

Perjuangan ku belum berakhir teman. Aku masih harus memberikan kado selanjutnya untuk ayah. Walau tidak mudah, aku akan selalu tetap berusaha. Kini aku di hadapkan pada kompetisi selanjutnya. Aku mengikuti kompetisi menulis hukum yang di adakan oleh Mahkamah Agung. Dalam perjuanganku yang kedua, aku di hadapkan pada sebuah masalah.

Rekan satu tim ku mengundurkan diri, dengan alasan yang tidak dapat di hindarkan. Perjuangan hanya pada ku dan gemma. Namun, kami tidak putus disitu saja. Aku harus membahagiakan ayah. ini komitmen yang harus tetap aku jaga.

Tuhan memberikan kado kedua kepada kami. Aku kembali diberi kesempatan untuk menjadi pemenang. Di kado yang kedua ini, akan aku berikan untuk ayah dan ibu. Dua sosok pahlawan yang selalu berjuang untukku.

Kini aku mulai bahagia. Kata Ibu ayah sudah banyak mengalami perubahan. Kini ayah sudah mulai bisa jalan. Dan ayah semakin yakin akan sembuh. Dia katakan pada Ibu akan ke Bandung dalam waktu dekat ini, karena Ia ingin melihat aku di wisuda. Ibu hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena ibu tahu bahwa aku masih semester IV, dan masih jauh dari kesempatan wisuda. Tapi demi ayah, ibu hanya tersenyum.

Aku semakin semangat memulai kehidupan ini. Aku, Ibu, dan Ayah tak akan pernah terpisahkan. Kini kami masih berjuang. Aku akan berikan kado-kado selanjutnya pada ayah. Teman, mungkin setiap orang punya ceritanya. Dan setiap orang berjuang untuk cita-citanya. Bagiku, perjuangan ini belum berakhir. Aku masih ingin melihat ayahku tersenyum tiap hari.

Aku belum siap melepaskan ayah, tapi aku sudah mengikhlaskan pada apa yang terjadi. Jangan sakiti mereka, dan tetaplah jaga perasaan mereka. Jangan renggut senyum mereka dan kalian lemparkan rasa kecewa pada mereka. Apakah perjuangan mereka menjaga dan merawat kita setimpal dengan nasi bungkus di warung termahal sekalipun? Apakah kebahagiaan dapat di beli dengan sebongkah berlian?






Tidak ada komentar:

Posting Komentar