Kaderisasi
Sudahkah kita mengerti tentang makna ini? Lalu bagaimana kita sebagai orang
penyandang gelar “MAHA”siswa, yang kata dosen disalah satu fakultas hukum di
Unpad mengatakan bahwa diatas mahasiswa itu mahaguru dan diatasnya lagi adalah
Tuhan. Artinya apa? Makna konotasi ini menggambarkan sikap tuntutan nyata
kepada mahasiswa untuk berpikir kritis dan efektif.
Seharusnya, sebagai mahasiswa kita harus mampu berbicara dan bertindak pada
apa yang sewajarnya. Sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu arti penting
dari sebuah kaderisasi atau kepemimpinan itu.
Sebagai mahasiswa, kata kaderisasi merupakan
kata yang sering terdengar,walau terkadang hal tersebut jauh terdeportasi dalam
artian yang sempit .Kamus-kamus tentang kaderisasi, baik pendidikan karakter,
sejarah, bahkan pengembangan pola pikir bukan hanya ditujukan sebagai
instrument penguat keberadaan dari suatu institusi atau lembaga tertentu yang
menyelenggarakan kaderisasi itu sendiri. Perlu dipahami bahwa, sejak awal kita
memilih kata kaderisasi sebagai alat untuk mempersiapkan calon-calon mahasiswa
yang akan menjadi estafet perjuangan,baik itu perjuangan yang dilakukan dalam
lingkungan “sempit”, ataupun pada ruang lingkup institusi masyarakat dan
lembaga tempat kita bernaung pada saat itu.
kita sudah saatnya berpikir bahwa kaderisasi
merupakan bagian dari perjuangan untuk keutuhan bangsa Indonesia, tidak lagi
bersifat koloni dan picik untuk pembelaan golongan tertentu saja dan untuk
pemuas suatu kalangan saja.
Saat ini kita selalu diutamakan untuk
memahami permasalahan-permasalahan yang berbau golongan tertentu, sementara
masalah di luar itu, pada skala yang lebih besar, selalu dikekang dengan
jargon-jargon apatis dan penuh jiwa arogansi kelompok tersebut. Idealnya, suatu
permasalahan baik secara sadar ataupun tidak, selalu akan bertambah dan
berkembang setiap waktunya dan hal utama yang harus kita prioritaskan adalah
melakukan penyelesaiaan masalah pada ruang lingkup yang paling dekat dengan
keseharian kita. Tidak ada jaminan suatu masalah yang kita temui saat ini bisa
kita kalahkan dengan satu atau bahkan dua strategi saja, selama permasalahan
tersebut tidak ada partisipasi secara sadar dari berbagai unsur akhirnya kita
hanya terperangkap pada lingkup keterbelakangan pengetahuan akan hal-hal lain
yang ada di luar perkiraan kita.
Kaderisasi yang didapatkan oleh mahasiswa
akan selalu berkutat pada pemahaman pendidikan arogansi oleh kader-kader yang
saat ini dipersiapkan.
Ada suatu kecenderungan ketika hal tersebut
kita budayakan sampai dengan saat ini, kemampuan dan potensi seorang kader
untuk mensikapi masalah-masalah sosial yang lebih luas dan lebih besar akan
semakin terkikis oleh perbuatan pengkader itu sendiri dan akhirnya hanya akan
tercipta kader mandul yang berpikiran konvensional.
Kalaulah konsep ini terus dibangun hanya
akan merusak apa yang menjadi pemikiran kita kedepan. Kita berharap suatu
gebrakan yang mampu membangun almamater Unpad ini kearah yang lebih baik dan
teroganis pada pola-pola sikap terbuka bukan untuk ditutup-tutupi. Maka perlu
adanya pengkaderan yang lebih baik dan perlu adanya gebrakan yang saling
terbuka untuk membangun check balance antara mahasiswa dengan unpad itu
sendiri. Jadi untuk membangun Indonesia yang lebih baik maka diperlukan dari
hal yang kecil
Menurut salah seorang dosen FH Unpad
mengatakan dengan adanya Dies Natalis Unpad yang ke-55 ini diharapkan Unpad
mampu menjadi miniatur hukum dinegari kita Indonesia ini. Lebih baik mengenal
dulu apa yang terjadi didalam barulah kita mulai bicara keluar. Bagi saya,
perlu adanya pertimbangan yang nyata dan konkrit untuk membangun Unpad yang
satu. Oleh sebab itu ayok kita ayunkah langkah kita menuju Unpad yang dinamis
dan bermartabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar