Kamis, 27 Juni 2013

lagi-lagi OPINI

Kaderisasi

Sudahkah kita mengerti tentang makna ini? Lalu bagaimana kita sebagai orang penyandang gelar “MAHA”siswa, yang kata dosen disalah satu fakultas hukum di Unpad mengatakan bahwa diatas mahasiswa itu mahaguru dan diatasnya lagi adalah Tuhan. Artinya apa? Makna konotasi ini menggambarkan sikap tuntutan nyata kepada mahasiswa untuk berpikir kritis dan efektif.

Seharusnya, sebagai mahasiswa kita harus mampu berbicara dan bertindak pada apa yang sewajarnya. Sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu arti penting dari sebuah kaderisasi atau kepemimpinan itu.
Sebagai mahasiswa, kata kaderisasi merupakan kata yang sering terdengar,walau terkadang hal tersebut jauh terdeportasi dalam artian yang sempit .Kamus-kamus tentang kaderisasi, baik pendidikan karakter, sejarah, bahkan pengembangan pola pikir bukan hanya ditujukan sebagai instrument penguat keberadaan dari suatu institusi atau lembaga tertentu yang menyelenggarakan kaderisasi itu sendiri. Perlu dipahami bahwa, sejak awal kita memilih kata kaderisasi sebagai alat untuk mempersiapkan calon-calon mahasiswa yang akan menjadi estafet perjuangan,baik itu perjuangan yang dilakukan dalam lingkungan “sempit”, ataupun pada ruang lingkup institusi masyarakat dan lembaga tempat kita bernaung pada saat itu.

kita sudah saatnya berpikir bahwa kaderisasi merupakan bagian dari perjuangan untuk keutuhan bangsa Indonesia, tidak lagi bersifat koloni dan picik untuk pembelaan golongan tertentu saja dan untuk pemuas suatu kalangan saja.

Saat ini kita selalu diutamakan untuk memahami permasalahan-permasalahan yang berbau golongan tertentu, sementara masalah di luar itu, pada skala yang lebih besar, selalu dikekang dengan jargon-jargon apatis dan penuh jiwa arogansi kelompok tersebut. Idealnya, suatu permasalahan baik secara sadar ataupun tidak, selalu akan bertambah dan berkembang setiap waktunya dan hal utama yang harus kita prioritaskan adalah melakukan penyelesaiaan masalah pada ruang lingkup yang paling dekat dengan keseharian kita. Tidak ada jaminan suatu masalah yang kita temui saat ini bisa kita kalahkan dengan satu atau bahkan dua strategi saja, selama permasalahan tersebut tidak ada partisipasi secara sadar dari berbagai unsur akhirnya kita hanya terperangkap pada lingkup keterbelakangan pengetahuan akan hal-hal lain yang ada di luar perkiraan kita.
Kaderisasi yang didapatkan oleh mahasiswa akan selalu berkutat pada pemahaman pendidikan arogansi oleh kader-kader yang saat ini dipersiapkan.

Ada suatu kecenderungan ketika hal tersebut kita budayakan sampai dengan saat ini, kemampuan dan potensi seorang kader untuk mensikapi masalah-masalah sosial yang lebih luas dan lebih besar akan semakin terkikis oleh perbuatan pengkader itu sendiri dan akhirnya hanya akan tercipta kader mandul yang berpikiran konvensional.

Kalaulah konsep ini terus dibangun hanya akan merusak apa yang menjadi pemikiran kita kedepan. Kita berharap suatu gebrakan yang mampu membangun almamater Unpad ini kearah yang lebih baik dan teroganis pada pola-pola sikap terbuka bukan untuk ditutup-tutupi. Maka perlu adanya pengkaderan yang lebih baik dan perlu adanya gebrakan yang saling terbuka untuk membangun check balance antara mahasiswa dengan unpad itu sendiri. Jadi untuk membangun Indonesia yang lebih baik maka diperlukan dari hal yang kecil

Menurut salah seorang dosen FH Unpad mengatakan dengan adanya Dies Natalis Unpad yang ke-55 ini diharapkan Unpad mampu menjadi miniatur hukum dinegari kita Indonesia ini. Lebih baik mengenal dulu apa yang terjadi didalam barulah kita mulai bicara keluar. Bagi saya, perlu adanya pertimbangan yang nyata dan konkrit untuk membangun Unpad yang satu. Oleh sebab itu ayok kita ayunkah langkah kita menuju Unpad yang dinamis dan bermartabat.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar