Jumat, 04 Oktober 2013

Puisi

 Biadap di Negeriku
Kulit tak bertulang
Nyawa yang teronggok
Kaku tanpa ekspresi
Reruntuhan begitu nyata dan dekat
Hingga jatuh berkeping-keping
 Nyawa yang dulu nyala
Kini tak sanggup berdaya
Harta yang kita punya
Kini habis ditelan dunia

Tuhan begitu bosan
Tanpa ada sesal
Semua rata oleh kebiadaban
Jeritanpun menjadi tautan
Yang bernyala ditengah rentetan
Tuhan mulai menjauh
Sulit dijangkau
Oleh yang lengah
Kini hanya duri-duri yang berkeping
Melonjak datang menghampiri
Mengapa waktu mudah berubah?
Lari tanpa maksud
Mengejar semua yang tak pasti

Sungguh itu biadab

Senin, 01 Juli 2013

Kenangan Masa Kecil

Hidup Layaknya Roda yang Berputar

Di kala aku masih berada di kampung. Aku memiliki seorang teman yang luar biasa. Panggil Ia dengan sebutan Imah. Mungkin sebagian temanku mulai lupa denganya. Tidak tertutup kemungkinan bagiku juga.

Saat pertama kali aku merasakan dunia pendidikan. Di bangku sekolah dasar, hampir setiap hari aku bermain bersama Imah. Ya, dia seorang gadis berkepribadian sahaja. Saat itu Ia masih berkecukupan dan paling pintar di kelas. Setiap pembagian rapor, Ia selalu rangking pertama.

Tapi aku tidak pernah merasa rendah diri untuk bermain bersama Imah. Walaupun ayahku hanya seorang guru, dan hidup kami pas-pasan saja, tetapi mengapa tidak untukku selalu mengajak Imah untuk berdiskusi mengenai pelajaran. Justru, menjadi seorang anak guru membuatku mengerti dan memahami bahwa ilmu itu patut dan berharga untuk dicari.

Hari-hari aku habiskan bermain bersama Imah. Sesekali Imah ke rumah kami. Dulu, aku tinggal di rumah kayu yang mana kalau hujan atapnya bocor, tetapi tetap kami syukuri. Disana, aku bersama Imah serta beberapa teman lainnya sering bersama. Bersama untuk belajar, bersama untuk bermain, dan bersama untuk menjadi sahabat.

Masa itu masa yang indah menurutku. Imah mengajari banyak kepadaku. Menjadi orang kaya kita tidak harus sombong. Mengapa? Kekayaan tidak ada yang bersifat abadi, dan suatu hari kita juga bisa menjadi orang yang berkecukupan. Tidak terasa selama 6 tahun kebersamaan kami.


Imah pun melanjutkan pendidikanya ke salau satu Pesantren ternama di Sumatra Barat. Dan aku melanjutkan pendidikan ke SMP yang berada di samping SD ku dulu. Tak apa-apa, yang penting aku bisa melanjutkan pendidikan.

Bertahun-tahun lamanya aku melupakan kebersamaan bersama Imah. Dan hari itu, di saat aku diterima di salah satu Universitas di kota kembang aku teringat akan Imah. Ingin rasanya mengetahui dimana Imah sekarang melanjutkan pendidikan.

Namu teman, saat aku mengetahui berita tentangnya, sedih rasanya dan aku terharu dengan pengorbananya. Dulu Ia memang berkecukupan, tetapi Tuhan kini mengujinya. Keluarganya dirunut beberapa masalah dan mereka kini berada dalam garis kemiskinan.

Tapi aku belajar banyak dari Imah, walau kini Ia kekurangan tak lantas membuat Imah menjadi lemah. Ya, kebanyakan orang kaya ketika jatuh miskin jadi setres dan tak tahu arah. Namun beda dengan temanku Imah.

Imah memiliki adik yang banyak. Kini bersama Ibunya Imah menata kehidupan mereka. Imah harus merelakan pendidikanya berhenti. Ia menggantikan Ibunya yang sakit-sakitan untuk berdagang. Ia rela untuk tidak melanjutkan pendidikanya. Dengan maksud, Ia harus berusaha keras menyekolahkan adik-adiknya dan bisa menjadi orang berguna. Ia rela mengorbankan masa depanya, kuliahnya, dan kepintarannya untuk keluarga kecilnya.

Kini Imah hanya seorang pedagang yang dapat aku temui di kampungku sana. Tapi justru disini aku menilai Imah merupakan sosok pintar. Mengapa? Walaupun Ia hanya pedagang, namun niat tulus untuk menyekolahkan adik-adiknya merupakan sesuatu yang luar biasa. Ia tak ingin adiknya merasakan penderitaan yang sama denganya. Baginya kehidupan itu adalah roda yang berputar.


Dulu mungkin Ia dikenal dengan sosok sempurna, selain kaya, Ia juga pintar. Melalui cerita hidup Imah aku mencoba menghadapi hidupku sendiri. Siapa yang tahu dengan kita hari esok. Kadang kita di atas dan kadang kita di uji Tuhan berada di bawah.

Doa ku tetapi satu. Dalam kondisi apapun. yang jelas aku harus bisa membahagiakan orangtuaku. Semoga suatu hari nanti aku bisa mewujudkan harapan orangtuaku. Menjadi salah seorang wisudawan dengan IPK terbaik dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan kami. Tetap semangat Imah, kami ada untukkmu. Dan aku yakin kepintaranmu akan selalu berfungsi. Karena ilmu tidak akan pernah habis. Selagi bisa, selalu berikan aura positif bagi siapapun yang mengenalmu.

Kamis, 27 Juni 2013

Sudah jadi MAHASISWA IDEAL belum???

Bagi saya, kategori mahasiswa ideal itu mahasiswa yang dapat men-sinergis-kan setiap aktifitasnya. Alasannya kenapa? Karena butuh proses untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Kalaulah seorang mahasiswa dapat mengatur kegiatannya tanpa harus ada keteteran ataupun kecerobohoan, maksudnya meminimalisir kecerobohon dalam bekerja, maka bagi saya seseorang itu sudah mencoba lebih baik dan dapat meng-singkronisasi-kan tindakan dan ucapannya.

Mahasiswa ideal itu memiliki beberapa point penting ( menurus saya):
I     à ingat akan waktu kapan ia harus bekerja, beristirahat, belajar dan membagi waktunya
àdengan waktunya ia dapat menghasilkan hal-hal positif yang bermanfaat untuk sekelilingnya
E  à empirisioneris, yaitu orang-orang yang mau dan mampu untuk berkeinginan mewujudkan cita-cita positifnya menjadi nyata
A  àapapun rintangan yang dihadapi akan diatasi dengan penuh strategis dan tidak gegabah dalam berkeputusan

L àlayaknya seorang mahasiswa, ia akan berpikir untuk merubah dirinya ke arah yang lebih baik dan bisa menjadi manusia sosial yang diterima baik ditengah-tengah masyarakat

SMAN PLUS RIAU


Abadi dan Selalu di Hati

Jikalau aku bisa menuangkan setiap perjalanan hidupku. Akan aku tulis untuk menghitung setiap perjalanan kisaku dari masa ke masa. Tersorot masa yang begitu ingin kembali ku ulangi bersama beribu anak negeri  yang mendabakan masa depan disinggah sana.

Satu demi satu lembaran mulai dikisahkan tentang kisah klasik yang menjadi cerita dimasa tua nanti. Aku mulai mengumpulkan setiap kisah-kisah klasik tentang SMA yang menjadi tempat aku didik.
Berbicara mengenai perasaan, maka seribu bunga akan kupersembahkan pada almamaterku ini.  Berbicara masalah usia, maka 100 tahunpun jikalau aku boleh maka aku akan kembali kesini lagi.

Memang aku seorang siswa yang beruntung mengenyam pendidikan disini. Mungkin masih banyak orang diluar sana yang ingin menjadi bagian kecil dari keluarga ini. Aku dan sebuah baju biru dongker yang lengkap dengan baret dan empoletnya duduk dalam sebuah kisah klasik yang ingin selalu dikenang.

Aku tak ingin menunggu waktu yang lama untuk kembali kesini. Kalaulah aku masih diizinkan, maka ingin rasanya aku melihat setiap gejolak yang terjadi dari masa kemasa. Belasan tahun yang lalu sekolah ini berdiri, kini di usianya yang sudah hampir menginjak dua windu tersebut menuai berjuta prestasi.

Aku salut dan bangga pada almamater ini. Selain siswanya yang hebat, disini terdapat guru-guru luar biasa yang dimiliki Riau. Setiap mereka adalah inspirasi dan motivasiku. Aku mulai dikenalkan pada lingkungan yang menunjang sebuah kehidupan yang indah dimasa depan, tentunya bersama pembina asrama tebaik yang pernah aku miliki (serma Nasir).


Akhirnya, sebuah keceriaan mulai kurasakan. Jika orang bertanya, apa yang menjadi kebanggaan dan prestasi alamater SMAN Plus Riau?. Maka aku menjawab, prestasi sekolahku adalah ketika guru-guru terbaik mampu mendidik kami menjadi anak negeri yang menjadi harapan bangsa ini. 

Maju SMAN Plus Jaya Indonesia!!!

lagi-lagi OPINI

Kaderisasi

Sudahkah kita mengerti tentang makna ini? Lalu bagaimana kita sebagai orang penyandang gelar “MAHA”siswa, yang kata dosen disalah satu fakultas hukum di Unpad mengatakan bahwa diatas mahasiswa itu mahaguru dan diatasnya lagi adalah Tuhan. Artinya apa? Makna konotasi ini menggambarkan sikap tuntutan nyata kepada mahasiswa untuk berpikir kritis dan efektif.

Seharusnya, sebagai mahasiswa kita harus mampu berbicara dan bertindak pada apa yang sewajarnya. Sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu arti penting dari sebuah kaderisasi atau kepemimpinan itu.
Sebagai mahasiswa, kata kaderisasi merupakan kata yang sering terdengar,walau terkadang hal tersebut jauh terdeportasi dalam artian yang sempit .Kamus-kamus tentang kaderisasi, baik pendidikan karakter, sejarah, bahkan pengembangan pola pikir bukan hanya ditujukan sebagai instrument penguat keberadaan dari suatu institusi atau lembaga tertentu yang menyelenggarakan kaderisasi itu sendiri. Perlu dipahami bahwa, sejak awal kita memilih kata kaderisasi sebagai alat untuk mempersiapkan calon-calon mahasiswa yang akan menjadi estafet perjuangan,baik itu perjuangan yang dilakukan dalam lingkungan “sempit”, ataupun pada ruang lingkup institusi masyarakat dan lembaga tempat kita bernaung pada saat itu.

kita sudah saatnya berpikir bahwa kaderisasi merupakan bagian dari perjuangan untuk keutuhan bangsa Indonesia, tidak lagi bersifat koloni dan picik untuk pembelaan golongan tertentu saja dan untuk pemuas suatu kalangan saja.

Saat ini kita selalu diutamakan untuk memahami permasalahan-permasalahan yang berbau golongan tertentu, sementara masalah di luar itu, pada skala yang lebih besar, selalu dikekang dengan jargon-jargon apatis dan penuh jiwa arogansi kelompok tersebut. Idealnya, suatu permasalahan baik secara sadar ataupun tidak, selalu akan bertambah dan berkembang setiap waktunya dan hal utama yang harus kita prioritaskan adalah melakukan penyelesaiaan masalah pada ruang lingkup yang paling dekat dengan keseharian kita. Tidak ada jaminan suatu masalah yang kita temui saat ini bisa kita kalahkan dengan satu atau bahkan dua strategi saja, selama permasalahan tersebut tidak ada partisipasi secara sadar dari berbagai unsur akhirnya kita hanya terperangkap pada lingkup keterbelakangan pengetahuan akan hal-hal lain yang ada di luar perkiraan kita.
Kaderisasi yang didapatkan oleh mahasiswa akan selalu berkutat pada pemahaman pendidikan arogansi oleh kader-kader yang saat ini dipersiapkan.

Ada suatu kecenderungan ketika hal tersebut kita budayakan sampai dengan saat ini, kemampuan dan potensi seorang kader untuk mensikapi masalah-masalah sosial yang lebih luas dan lebih besar akan semakin terkikis oleh perbuatan pengkader itu sendiri dan akhirnya hanya akan tercipta kader mandul yang berpikiran konvensional.

Kalaulah konsep ini terus dibangun hanya akan merusak apa yang menjadi pemikiran kita kedepan. Kita berharap suatu gebrakan yang mampu membangun almamater Unpad ini kearah yang lebih baik dan teroganis pada pola-pola sikap terbuka bukan untuk ditutup-tutupi. Maka perlu adanya pengkaderan yang lebih baik dan perlu adanya gebrakan yang saling terbuka untuk membangun check balance antara mahasiswa dengan unpad itu sendiri. Jadi untuk membangun Indonesia yang lebih baik maka diperlukan dari hal yang kecil

Menurut salah seorang dosen FH Unpad mengatakan dengan adanya Dies Natalis Unpad yang ke-55 ini diharapkan Unpad mampu menjadi miniatur hukum dinegari kita Indonesia ini. Lebih baik mengenal dulu apa yang terjadi didalam barulah kita mulai bicara keluar. Bagi saya, perlu adanya pertimbangan yang nyata dan konkrit untuk membangun Unpad yang satu. Oleh sebab itu ayok kita ayunkah langkah kita menuju Unpad yang dinamis dan bermartabat.










Bukan tugas, tapi tumben mau buat opini

Aku hargai Pilar Negara, Maka Aku Dihargai Bangsaku

Negara yang marak dengan teror-teror dan isu-su belaka, semakin lama mengantarkan negara ini kepada ujung kerancuan. Bagaimana tidak? Bayangkan jika makin lama orang-orang mulai kebingungan dengan konstitusi negara yang semakin simpang-siur. Setiap lembaga yang diakui negara mulai memikirkan aturan yang menguntungkan mereka. Satu demi satu lembaran dan aturan negara yang menguntungkan tuan-tuan penguasa mulai dikibarkan.

Saya dan beribu anak bangsa mulai bertanya, apakah bangsa ini akan kembali ke konstitusi yang dulu disanjung-sanjung dan dijadikan tumpu pemersatu negara? Ataukah akan lahir kembali amandemen konstitusi terhadap undang-undang dasar negara kita. Sudah 10 tahun yang lalu diamandemen, akankah akan ada amandemen ke-5? .


Ingatlah, ketika kita berbica negara, maka kita berbicara 4 pilar negara yang dijunjung tinggi oleh setiap orang dinegara ini. Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika merupakan pilar-pilar yang harus terus tetap dihargai dan dijaga oleh setiap orang dibangsa ini. Saya yakin, jika bangsa ini tetap sadar dan peduli pada ke-4 pilar ini maka jelaslah setiap orang akan menjunjung sportifitas dan nilai-nilai yang berlaku dari sabang sampai ke merauke ini. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab bukan bangsa yang lemah dan dikalahkan oleh nilai-nilai moral yang sekarang marak dan menjamur untuk merusak setiap pola pikiran kita.

Tulisan Pertama untuk Ayah

Bingkisan Kalbu untuk Ayah

Malam yang indah bagi seluruh umat manusia di belahan dunia bagian timur. Termasuk bagi seorang remaja seperti aku. Panggil saja aku dengan sebutan Ricky. Aku di besarkan dalam keluarga sederhana yang harmonis. Tak perlu keju atau susu menemani makan malam kami. Cukup dengan air putih, nasi , dan sebuah lauk saja, semuanya sudah cukup.

Kisahku dimulai saat aku berada di bangku perkuliahan..,

Di salah satu universitas ternama di kota kembang, aku memulai kehidupan. Aku salah satu mahasiswa fakultas hukum angkatan 2011. Hobby ku sederhana, berkumpul bersama teman-teman dan berbagi pengalaman. Saat asyik bercerita, seorang teman melihatkanku pada sebuah kertas yang diambilnya dari mading kampus. Mading itu dikenal dengan sebutan mading vonis, salah satu unit kegiatan di fakultasku.

Disana, terpampang sebuah pengumuman kompetisi debat. Saat itu, aku merasa malu dan tak patut bersaing di kompetisi yang bergengsi ini, ya karena aku hanya anak daerah dari kota kecil. Tapi berkat motivasi dari teman-teman, aku pun mencobanya. Dibantu oleh dua rekan satu tim, kami pun mulai berlatih mempersiapkan lomba tersebut. Ini adalah kompetisi lomba debat hukum nasional. Dan penyelenggaranya adalah Universitas Trisakti yaitu dalam rangka memperebutkan piala Alm. Prof. Budi Harsono, Bapak Agraria Indonesia.

Tepat sehari sebelum kompetisi, kami di hadapkan pada sebuah masalah klasik. Salah seorang temanku ingin mengundurkan diri. Alasanya sangat sederhana, yaitu tidak nyaman lagi dengan rekanku yang lain. Alhasil, aku hanya menjadi tumbal perasaan mereka. Namun aku tidak berdiam diri saja, aku coba membujuknya kembali. Dan hasilnya, Ia pun mencoba untuk tetap bertahan. Syukurlah, satu masalah sudah terselesaikan.

Di malam yang sama, tanpa sepengetahuanku. Ayah, sosok yang selalu berjuang untuk aku dan keluarga, mendapatkan musibah. Sosok tegar itu diserang sebuah penyakit. Penyakit itu dikenal dengan sebutan stroke. Malam itu ayah dilarikan ke ibu kota provinsiku, sebut saja Pekanbaru. Jaraknya kurang lebih 4 jam dari kota kecil kami. Di perjalanan ayah berpesan, “ Jangan pernah beri tahu Ricky apa yang terjadi pada ayah, biarkan ia menyelesaikan kegiatanya ”.  dan malam itu, ibu berjanji untuk merahasiakanya dariku.

Pagi menjelang, ditemani suara kokokan ayam. Aku sibuk menyiapkan baju yang akan digunakan untuk lomba nanti. Mata ini hanya tertuju pada baju batik pemberian ayah. Entah kenapa hari itu aku ingin menggunakannya. Dan ternyata hal ini selaras dengan dua rekan setimku. Mereka juga menggunakan baju batik dengan bawahan celana bahan hitam.

Kompetisi akan segera dimulai. Sebelumnya kami berdoa agar diberi kelancaran. Perlahan bahuku dipegang salah seorang panitia, ternyata ini saatnya giliran kami untuk bertanding. Pada gelombang pertama, kami menghadapi senior. Hanya berbekal kepada keyakinan dan usaha, kami mencoba menghadapi kompetisi ini dengan maksimal.

Waktu tak terasa, hingga sore menjelang kompetisipun telah usai digelar. Kini kami hanya menunggu untuk sebuah pengumuman, tim mana yang berhak mewakili fakultas hukum ini untuk berlaga di tingkat Nasional. Harapanku saat itu adalah semoga kami yang mewakilinya. Sebelum pengumuman berlangsung, aku mencoba menelepon ibu. Namun saat itu aku tidak lagi mendengar suara ayah. Dan aku bertanya, “ Ibu, kemana ayah? Mengapa ayah enggan bicara pada Ricky? Apakah Ricky berbuat salah pada ayah? “ dan Ibu menjawab, “ oh ayah sedang sibuk, dan juga suara ayah lagi habis, nanti kalau dia rindu Ricky, ayah bakal menghubungi Ricky”. Dan aku pun dengan polos menerima perkataan ibu saat via telpon tersebut terjadi.

“Ricky ayo, pengumuman akan dimulai beberapa menit lagi”, sahut salah seorang rekan satu tim ku. Dan kami pun bergegas ke ruang pengumuman. Di dalam hati, kami telah mengikhlaskan semuanya. Menang kalah itu urusan nanti, yang penting telah mencoba. Detik-detik pengumuman  telah terasa. Dan hal terindah saat itu, tim Hans Kelsen di umumkan sebagai pemenang. Itu adalah nama tim kami. Hari ini hari bahagia bagi kami bertiga. Terkhususnya bagi aku. Ingin segera aku mengabari pada Ibu bahwa aku berhasil mewakili kampus untuk berkompetisi di tingkat Nasional.

Telepon genggamku menjadi saksi bisu percakapan antara aku dan ibu. Saat itu, Ibu mencoba memberikan selamat atas apa yang aku peroleh. Dan ibu menunjukkan rasa bahagianya. Namun, tanpa sepengetahuanku, di dalam hati ibu menangis. Menurutnya, ucapan ayah benar, ayah tak ingin konsentrasi anaknya terbagi saat itu. Ayah ingin anaknya dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita anaknya selama ini. Kini hal itu terwujud. Ibu semakin yakin untuk merahasiakan kondisi ayah dari ku.

Lebih kurang selama sebulan, aku mempersiapkan semua perjalananku untuk kompetisi nantinya. Bersama rekan satu tim dan beberapa senior, kami dilatih untuk lebih matang menghadapi kompetisi. Dan selama itu juga, aku tertipu dengan kondisi yang ada. Ayah, sosok yang aku kagumi selama itu berjuang untuk hidupnya di ruang yang berbeda.

Walau hanya terbaring di atas kasur, kata ibu, ayah tidak pernah berhenti berdoa. Walaupun suara dan ucapan ayah tak jelas, tapi ibu percaya, ayah ingin mengucapkan salam rindunya dan doa serta ucapan semangat padaku. Salam ayah disampaikan oleh Ibu dengan caranya sendiri. Alhasil, aku lagi-lagi tertipu.
Hari kompetisi semakin dekat, aku lagi-lagi ingin berbicara pada ayah. Kali ini, ibu berbohong lagi, tetapi dengan caranya yang lain. Sebelum aku bertanya dimana ayah. Ibu langsung mengabari bahwa ayah lagi tidur. Yang ada aku hanya berbicara pada Ibu, dan aku meminta doa restu dari ibu.

Kompetisi dimulai. Seluruh universitas di Indonesia mengikuti ajang ini. Harapanku sangat besar, menjadi yang terbaik di dalam kompetisi ini. Semangat kami telah berkobar, yang ada di hadapanku adalah senyum terbaik dari kedua orangtuaku untuk hasil yang akan aku capai.

Lebih kurang 3 hari kami berkompetisi. Hari ini akan di umumkan pemenangya. Di babak final lomba debat hukum nasional ini, universitas kami berhadapan dengan salah satu fakultas hukum di Jakarta. Tepat pada pukul 21.00 WIB, panitia mengumumkan hasilnya. Jantung serasa mau copot. Bagiku ini hidup mati atas perjuangan yang kami lalui. Aku tidak yakin dengan hasilnya, namun Tuhan berkata lain. Kesempatan menjadi yang terbaik Tuhan berikan kepada kami. Saat itu, perasaanku sudah tak karuan. Senang menjadi pemenang, dan bangga dengan proses yang kami lalui.

Aku merasa ada hal yang luput dari ingatakan ku. Ya benar sekali, aku belum mengabari kabar bahagia ini pada orangtuaku. Malam itu menjadi saksi kesedihanku. Aku mulai menitihkan air mata, tak tahu apakah itu karena kabar kebahagiaan kami atau mendengar kabar dari Ibu. Sampai hari ini aku masih merekam pembicaraan Ibu via telepon,

“..., selamat anakku, Ibu dan ayah bangga pada usahamu. Hargai waktu yang kamu korbankan selama ini, dan tetaplah menjadi kebanggaan kami. Tapi ada suatu hal yang Ibu tak bisa lagi rahasiakan darimu.”
Spontan aku terdiam, lalu aku bertanya kepada Ibu, “ Ada apa Ibu, apakah ada kaitanya dengan keluarga kita.” Dan Ibu kembali menjawab,

“Ibu minta maaf, selama ini kami mencoba menutupinya dari Ricky. Ayah meminta kami untuk merahasiakannya. Tepat disaat Ricky menjadi wakil kampus untuk berkompetisi di Nasional, selama itu juga ayah berjuang menghadapi hidupnya. Kini ayah hanya berbaring di rumah. Ayah terkena penyakit stroke. Semua badan ayah tidak bisa di gerakkan. Badan ayah semakin kurus, ayah sangat merindukkan Ricky. Bolehkah ibu berharap satu hal dari Ricky? “.  Ibu melontarkan kembali pertanyaan kepadaku. Dan aku pun mempersilahkan Ibu untuk kembali melanjutkan pertanyaanya.

“Pulanglah nak, ayah sangat merindukan Ricky. Beri motivasi pada ayah. Kami disini udah berkumpul. Kakak udah di rumah, hanya Ricky yang belum menemui ayah. Ricky tidak merindukan ayah nak? Ibu yakin riki pasti merindukannya? Belilah tiket pulang dengan hadiah yang riki peroleh, Ibu harap itu cukup.”

Saat itu juga aku terdiam, tanpa aku sadari air mataku jatuh dan membasahi pipi ini. Sampai hari ini, aku masih teringat saat akan kejadian itu. Sepulangnya dari Jakarta, aku langsung memesan tiket pesawat untuk balik ke Riau. Yang terpenting saat itu adalah kondisi ayah. Aku harus membungkus rasa bahagia sementara waktu, karena kebahagian utamaku menunggu di rumah sederhana kami, yaitu Ayah.

12 November 2013

Kini aku telah sampai di kampung halaman tempat aku di besarkan. Tak ada yang berubah dari rumaku. Hanya rumput di halaman rumaku semakin tinggi. Aku yakin Ibu belum sempat memikirkan hal itu. Karena, hal terbesar yang dipikirkan saat ini adalah kesembuhan ayah.

Setibanya di rumah. Aku disambut dengan hangat oleh kelaurgaku. Ibu terlihat sedih tetapi mencoba untuk tidak melihatkan rasa sedihnya padaku. Ibu mengambil tanganku, dan mengajak ku kepada sebuah ruangan. Disana ada ayah, sosok yang kuat tapi saat itu hanya bisa terbaring di kasur kesayanganku.

Aku mencium kening ayah. Ayah terbangun dari tidurnya. Aku berusaha menutup rasa sedih ini degan memberikan sebuah senyuman. Aku lihat, ayah menangis. Matanya dibasahi oleh air. Tapi aku tetap menjaga rasa sakit ini dengan tersenyum.

Aku sapa ayah. Dan aku berikan ayah sebuah kado. Tepat di dalam ranselku, aku telah membawa kado pertama untuk ayah. Sebuah piala, ya itu piala lomba debat kemarin. Aku minta ayah untuk menciumnya, dan aku katakan kepada ayah, “ Ini perjuangan kita ayah, bukan hanya Ricky saja yang berjuang tetapi juga ayah. Jika Ricky tahu kondisi ayah saat itu, mungkin Ricky akan batalkan mengikuti lomba ini. Terimakasih ayah telah berjuang luar biasa untuk putranya. Riki akan bertekat membawa kado-kado lain untuk ayah” lalu aku cium kembali kening ayah. Dan aku pun meminta ayah untuk beristirahat kembali.

Malam kian terasa. Aku hanya tertunduk lemas pada kondisi yang ada. Tapi rasa ini tak mungkin ku ungkapkan pada Ayah ataupun Ibu. Kata siapa, anak bungsu anak manja. Aku tak menggunakan slogan ini untuk saat itu. Aku harus menggantikan peran ayah. Mengantarkan Ibu ke pasar. Menjalankan pekerjaan ayah di rumah dan sebagainya.

Lebih seminggu aku meninggalkan bangku perkuliahan untuk bersama keluarga kecilku di kampung. Tapi, ayah meminta aku untuk kembali ke Bandung. Ayah tak ingin aku lama-lama meninggalkan kampus. Perubahan pada ayah dapat aku rasakan. Kini, ayah sudah mulai banyak makan dan berat badannya bertambah.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengikhlaskan semuanya. Aku bisikkan pada telinga Ibu untuk tetap tegar dan mengikhlaskan kondisi yang ada. Ini rencana Tuhan, dan akan indah pada waktunya. Ibu mengungkapkan rasa sedihnya pada ku. Ibu mengatakan bahwa keluarga ayah 2 orang telah meninggal diikarenakan sakit. Dan kini ibu menjadi takut kehilangan ayah.

Aku mencoba memberikan semangat pada ibu. Aku katakan pada ibu, ayah akan selalu berada di samping kita. Dan aku menitipkan peran ayah kepada Ibu. Dan aku yakinkan pada ibu terbaik di dunia ini, untuk mampu menjadi sosok mandiri dan tabah. Hari itu pun aku kembali ke Bandung. Sebelumnya aku kecup kening ayah dan aku tahan agar air mata ini tidak jatuh ke wajahnya.

Perjuangan ku belum berakhir teman. Aku masih harus memberikan kado selanjutnya untuk ayah. Walau tidak mudah, aku akan selalu tetap berusaha. Kini aku di hadapkan pada kompetisi selanjutnya. Aku mengikuti kompetisi menulis hukum yang di adakan oleh Mahkamah Agung. Dalam perjuanganku yang kedua, aku di hadapkan pada sebuah masalah.

Rekan satu tim ku mengundurkan diri, dengan alasan yang tidak dapat di hindarkan. Perjuangan hanya pada ku dan gemma. Namun, kami tidak putus disitu saja. Aku harus membahagiakan ayah. ini komitmen yang harus tetap aku jaga.

Tuhan memberikan kado kedua kepada kami. Aku kembali diberi kesempatan untuk menjadi pemenang. Di kado yang kedua ini, akan aku berikan untuk ayah dan ibu. Dua sosok pahlawan yang selalu berjuang untukku.

Kini aku mulai bahagia. Kata Ibu ayah sudah banyak mengalami perubahan. Kini ayah sudah mulai bisa jalan. Dan ayah semakin yakin akan sembuh. Dia katakan pada Ibu akan ke Bandung dalam waktu dekat ini, karena Ia ingin melihat aku di wisuda. Ibu hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena ibu tahu bahwa aku masih semester IV, dan masih jauh dari kesempatan wisuda. Tapi demi ayah, ibu hanya tersenyum.

Aku semakin semangat memulai kehidupan ini. Aku, Ibu, dan Ayah tak akan pernah terpisahkan. Kini kami masih berjuang. Aku akan berikan kado-kado selanjutnya pada ayah. Teman, mungkin setiap orang punya ceritanya. Dan setiap orang berjuang untuk cita-citanya. Bagiku, perjuangan ini belum berakhir. Aku masih ingin melihat ayahku tersenyum tiap hari.

Aku belum siap melepaskan ayah, tapi aku sudah mengikhlaskan pada apa yang terjadi. Jangan sakiti mereka, dan tetaplah jaga perasaan mereka. Jangan renggut senyum mereka dan kalian lemparkan rasa kecewa pada mereka. Apakah perjuangan mereka menjaga dan merawat kita setimpal dengan nasi bungkus di warung termahal sekalipun? Apakah kebahagiaan dapat di beli dengan sebongkah berlian?






Epilog BT Lethgen

Kelopak Musim Semi 

Kini lembaran itu telah diisi
Mengisahkan suka dan duka kelopak musim semi
Kini mereka mulai tumbuh dan mekar
Menyongsong mentari pagi yang kian bersinar
Merajut benang-benang halus yang mulai tergambarkan

Sahabat,
Kini songsonglah mentari itu
Rajut semua cita-cita yang dulu kita impikan
Jadikan masa-masa ini sebagai kenangan klasik  dalam simponi hidupmu

Sahabat lihatlah,
Kini mentari itu mulai tenggelam
Sang raja kini tertidur pulas diatas sana
Menanti putri malam yang segera tiba

Dan lihatlah kawan,
Kini kelopak itu kembali menggugurkan daunnya
hingga senja menjadi pemanis diakhir cerita…..

1001 hari tlah kita lalui
Kini gerbang itupun mulai terbuka
Sebuah kisah baru kita ukir kembali
Kini para LETHGEN mulai melangkah
Kini saatnya LETHGEN merancang sketsa di atas kanvas
Kini saatnya sangkar itu mulai terbuka…….
Dan burung-burung mulai berkicau mengabarkan pada dunia tentang kisah LETHGEN
Kisah sebelas kelopak

Tahukah kau sahabat?
Kini LETHGEN dikembalikan keasalnya
Sebuah harapan besar,bersandar di pundaknya
Sebuah misi menjadi beban di tubuh mereka…

Kini sahabat,,…
LETHGEN mulai mengisi akar-akar kota yang dulu sirna
Sahabat taukah kau?

Harapan besar itu adalah kita,… para jenderal LETHGEN

Prolog untuk BT Lethgen

Kelopak Musim Semi

Mentari mulai menyongsong suasana pagi
Sebuah keceriaan mulai tergambar di ufuk timur
Seroja,melati, bahkan mawar pun perlahan – lahan mulai menggugurkan daunya
Ternyata pagi ini musim gugur 

Sahabat,
Satu demi satu kelopak itu kini mulai berdatangan
Setetes embun pun mulai mengambarkan keceriaan sabtu pagi
Kelopak demi kelopak itu kini berkumpul menjadi satu
Namun berbeda dari yang lain, ini kelopak musim semi
Mekar dan memiliki sebelas bagian

Lihat kawan,
Burung-burung berkicau mengabarkan pada dunia
Tentang keakraban diantara kita

Kawan dengarlah
Ombak dilaut samudrapun kian saling mengejar
Sahutan suara mereka kini menggema di udara

Bukan hanya itu kawan
Kini lihat laskar muda Indonesia
Mereka berjuang membawa pendeteksi radardi genggaman jemarinya
Dan untaian do’a kian di haturkan dari gadis-gadis bercadar

Kini harapan itu pun mulai membuming di udara
Untuk mengisahkan harapan besar kelopak musim semi
Ya,,kelopak dengan sebelas bagian itu.