Bingkisan
Kalbu untuk Ayah
Malam yang indah bagi
seluruh umat manusia di belahan dunia bagian timur. Termasuk bagi seorang
remaja seperti aku. Panggil saja aku dengan sebutan Ricky. Aku di besarkan
dalam keluarga sederhana yang harmonis. Tak perlu keju atau susu menemani makan
malam kami. Cukup dengan air putih, nasi , dan sebuah lauk saja, semuanya sudah
cukup.
Kisahku
dimulai saat aku berada di bangku perkuliahan..,
Di salah satu
universitas ternama di kota kembang, aku memulai kehidupan. Aku salah satu
mahasiswa fakultas hukum angkatan 2011. Hobby ku sederhana, berkumpul bersama
teman-teman dan berbagi pengalaman. Saat asyik bercerita, seorang teman
melihatkanku pada sebuah kertas yang diambilnya dari mading kampus. Mading itu
dikenal dengan sebutan mading vonis, salah satu unit kegiatan di fakultasku.
Disana, terpampang
sebuah pengumuman kompetisi debat. Saat itu, aku merasa malu dan tak patut
bersaing di kompetisi yang bergengsi ini, ya karena aku hanya anak daerah dari
kota kecil. Tapi berkat motivasi dari teman-teman, aku pun mencobanya. Dibantu
oleh dua rekan satu tim, kami pun mulai berlatih mempersiapkan lomba tersebut.
Ini adalah kompetisi lomba debat hukum nasional. Dan penyelenggaranya adalah
Universitas Trisakti yaitu dalam rangka memperebutkan piala Alm. Prof. Budi Harsono,
Bapak Agraria Indonesia.
Tepat sehari sebelum
kompetisi, kami di hadapkan pada sebuah masalah klasik. Salah seorang temanku
ingin mengundurkan diri. Alasanya sangat sederhana, yaitu tidak nyaman lagi
dengan rekanku yang lain. Alhasil, aku hanya menjadi tumbal perasaan mereka.
Namun aku tidak berdiam diri saja, aku coba membujuknya kembali. Dan hasilnya,
Ia pun mencoba untuk tetap bertahan. Syukurlah, satu masalah sudah
terselesaikan.
Di malam yang sama,
tanpa sepengetahuanku. Ayah, sosok yang selalu berjuang untuk aku dan keluarga,
mendapatkan musibah. Sosok tegar itu diserang sebuah penyakit. Penyakit itu
dikenal dengan sebutan stroke. Malam itu ayah dilarikan ke ibu kota provinsiku,
sebut saja Pekanbaru. Jaraknya kurang lebih 4 jam dari kota kecil kami. Di
perjalanan ayah berpesan, “ Jangan pernah beri tahu Ricky apa yang terjadi pada
ayah, biarkan ia menyelesaikan kegiatanya ”.
dan malam itu, ibu berjanji untuk merahasiakanya dariku.
Pagi menjelang,
ditemani suara kokokan ayam. Aku sibuk menyiapkan baju yang akan digunakan
untuk lomba nanti. Mata ini hanya tertuju pada baju batik pemberian ayah. Entah
kenapa hari itu aku ingin menggunakannya. Dan ternyata hal ini selaras dengan
dua rekan setimku. Mereka juga menggunakan baju batik dengan bawahan celana
bahan hitam.
Kompetisi akan segera
dimulai. Sebelumnya kami berdoa agar diberi kelancaran. Perlahan bahuku
dipegang salah seorang panitia, ternyata ini saatnya giliran kami untuk
bertanding. Pada gelombang pertama, kami menghadapi senior. Hanya berbekal
kepada keyakinan dan usaha, kami mencoba menghadapi kompetisi ini dengan
maksimal.
Waktu tak terasa,
hingga sore menjelang kompetisipun telah usai digelar. Kini kami hanya menunggu
untuk sebuah pengumuman, tim mana yang berhak mewakili fakultas hukum ini untuk
berlaga di tingkat Nasional. Harapanku saat itu adalah semoga kami yang
mewakilinya. Sebelum pengumuman berlangsung, aku mencoba menelepon ibu. Namun
saat itu aku tidak lagi mendengar suara ayah. Dan aku bertanya, “ Ibu, kemana
ayah? Mengapa ayah enggan bicara pada Ricky? Apakah Ricky berbuat salah pada
ayah? “ dan Ibu menjawab, “ oh ayah sedang sibuk, dan juga suara ayah lagi
habis, nanti kalau dia rindu Ricky, ayah bakal menghubungi Ricky”. Dan aku pun
dengan polos menerima perkataan ibu saat via telpon tersebut terjadi.
“Ricky ayo, pengumuman
akan dimulai beberapa menit lagi”, sahut salah seorang rekan satu tim ku. Dan
kami pun bergegas ke ruang pengumuman. Di dalam hati, kami telah mengikhlaskan
semuanya. Menang kalah itu urusan nanti, yang penting telah mencoba.
Detik-detik pengumuman telah terasa. Dan
hal terindah saat itu, tim Hans Kelsen di umumkan sebagai pemenang. Itu adalah
nama tim kami. Hari ini hari bahagia bagi kami bertiga. Terkhususnya bagi aku.
Ingin segera aku mengabari pada Ibu bahwa aku berhasil mewakili kampus untuk
berkompetisi di tingkat Nasional.
Telepon genggamku
menjadi saksi bisu percakapan antara aku dan ibu. Saat itu, Ibu mencoba
memberikan selamat atas apa yang aku peroleh. Dan ibu menunjukkan rasa
bahagianya. Namun, tanpa sepengetahuanku, di dalam hati ibu menangis.
Menurutnya, ucapan ayah benar, ayah tak ingin konsentrasi anaknya terbagi saat
itu. Ayah ingin anaknya dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita anaknya
selama ini. Kini hal itu terwujud. Ibu semakin yakin untuk merahasiakan kondisi
ayah dari ku.
Lebih kurang selama
sebulan, aku mempersiapkan semua perjalananku untuk kompetisi nantinya. Bersama
rekan satu tim dan beberapa senior, kami dilatih untuk lebih matang menghadapi
kompetisi. Dan selama itu juga, aku tertipu dengan kondisi yang ada. Ayah,
sosok yang aku kagumi selama itu berjuang untuk hidupnya di ruang yang berbeda.
Walau hanya terbaring
di atas kasur, kata ibu, ayah tidak pernah berhenti berdoa. Walaupun suara dan
ucapan ayah tak jelas, tapi ibu percaya, ayah ingin mengucapkan salam rindunya
dan doa serta ucapan semangat padaku. Salam ayah disampaikan oleh Ibu dengan
caranya sendiri. Alhasil, aku lagi-lagi tertipu.
Hari kompetisi semakin
dekat, aku lagi-lagi ingin berbicara pada ayah. Kali ini, ibu berbohong lagi,
tetapi dengan caranya yang lain. Sebelum aku bertanya dimana ayah. Ibu langsung
mengabari bahwa ayah lagi tidur. Yang ada aku hanya berbicara pada Ibu, dan aku
meminta doa restu dari ibu.
Kompetisi dimulai.
Seluruh universitas di Indonesia mengikuti ajang ini. Harapanku sangat besar,
menjadi yang terbaik di dalam kompetisi ini. Semangat kami telah berkobar, yang
ada di hadapanku adalah senyum terbaik dari kedua orangtuaku untuk hasil yang
akan aku capai.
Lebih kurang 3 hari
kami berkompetisi. Hari ini akan di umumkan pemenangya. Di babak final lomba
debat hukum nasional ini, universitas kami berhadapan dengan salah satu
fakultas hukum di Jakarta. Tepat pada pukul 21.00 WIB, panitia mengumumkan
hasilnya. Jantung serasa mau copot. Bagiku ini hidup mati atas perjuangan yang
kami lalui. Aku tidak yakin dengan hasilnya, namun Tuhan berkata lain.
Kesempatan menjadi yang terbaik Tuhan berikan kepada kami. Saat itu, perasaanku
sudah tak karuan. Senang menjadi pemenang, dan bangga dengan proses yang kami
lalui.
Aku merasa ada hal yang
luput dari ingatakan ku. Ya benar sekali, aku belum mengabari kabar bahagia ini
pada orangtuaku. Malam itu menjadi saksi kesedihanku. Aku mulai menitihkan air
mata, tak tahu apakah itu karena kabar kebahagiaan kami atau mendengar kabar
dari Ibu. Sampai hari ini aku masih merekam pembicaraan Ibu via telepon,
“..., selamat anakku,
Ibu dan ayah bangga pada usahamu. Hargai waktu yang kamu korbankan selama ini,
dan tetaplah menjadi kebanggaan kami. Tapi ada suatu hal yang Ibu tak bisa lagi
rahasiakan darimu.”
Spontan aku terdiam,
lalu aku bertanya kepada Ibu, “ Ada apa Ibu, apakah ada kaitanya dengan
keluarga kita.” Dan Ibu kembali menjawab,
“Ibu minta maaf, selama
ini kami mencoba menutupinya dari Ricky. Ayah meminta kami untuk
merahasiakannya. Tepat disaat Ricky menjadi wakil kampus untuk berkompetisi di
Nasional, selama itu juga ayah berjuang menghadapi hidupnya. Kini ayah hanya
berbaring di rumah. Ayah terkena penyakit stroke. Semua badan ayah tidak bisa
di gerakkan. Badan ayah semakin kurus, ayah sangat merindukkan Ricky. Bolehkah
ibu berharap satu hal dari Ricky? “. Ibu
melontarkan kembali pertanyaan kepadaku. Dan aku pun mempersilahkan Ibu untuk
kembali melanjutkan pertanyaanya.
“Pulanglah nak, ayah
sangat merindukan Ricky. Beri motivasi pada ayah. Kami disini udah berkumpul.
Kakak udah di rumah, hanya Ricky yang belum menemui ayah. Ricky tidak
merindukan ayah nak? Ibu yakin riki pasti merindukannya? Belilah tiket pulang
dengan hadiah yang riki peroleh, Ibu harap itu cukup.”
Saat itu juga aku
terdiam, tanpa aku sadari air mataku jatuh dan membasahi pipi ini. Sampai hari
ini, aku masih teringat saat akan kejadian itu. Sepulangnya dari Jakarta, aku
langsung memesan tiket pesawat untuk balik ke Riau. Yang terpenting saat itu
adalah kondisi ayah. Aku harus membungkus rasa bahagia sementara waktu, karena
kebahagian utamaku menunggu di rumah sederhana kami, yaitu Ayah.
12
November 2013
Kini aku telah sampai
di kampung halaman tempat aku di besarkan. Tak ada yang berubah dari rumaku.
Hanya rumput di halaman rumaku semakin tinggi. Aku yakin Ibu belum sempat
memikirkan hal itu. Karena, hal terbesar yang dipikirkan saat ini adalah
kesembuhan ayah.
Setibanya di rumah. Aku
disambut dengan hangat oleh kelaurgaku. Ibu terlihat sedih tetapi mencoba untuk
tidak melihatkan rasa sedihnya padaku. Ibu mengambil tanganku, dan mengajak ku
kepada sebuah ruangan. Disana ada ayah, sosok yang kuat tapi saat itu hanya
bisa terbaring di kasur kesayanganku.
Aku mencium kening
ayah. Ayah terbangun dari tidurnya. Aku berusaha menutup rasa sedih ini degan
memberikan sebuah senyuman. Aku lihat, ayah menangis. Matanya dibasahi oleh
air. Tapi aku tetap menjaga rasa sakit ini dengan tersenyum.
Aku sapa ayah. Dan aku
berikan ayah sebuah kado. Tepat di dalam ranselku, aku telah membawa kado
pertama untuk ayah. Sebuah piala, ya itu piala lomba debat kemarin. Aku minta
ayah untuk menciumnya, dan aku katakan kepada ayah, “ Ini perjuangan kita ayah,
bukan hanya Ricky saja yang berjuang tetapi juga ayah. Jika Ricky tahu kondisi
ayah saat itu, mungkin Ricky akan batalkan mengikuti lomba ini. Terimakasih
ayah telah berjuang luar biasa untuk putranya. Riki akan bertekat membawa
kado-kado lain untuk ayah” lalu aku cium kembali kening ayah. Dan aku pun
meminta ayah untuk beristirahat kembali.
Malam kian terasa. Aku
hanya tertunduk lemas pada kondisi yang ada. Tapi rasa ini tak mungkin ku
ungkapkan pada Ayah ataupun Ibu. Kata siapa, anak bungsu anak manja. Aku tak
menggunakan slogan ini untuk saat itu. Aku harus menggantikan peran ayah.
Mengantarkan Ibu ke pasar. Menjalankan pekerjaan ayah di rumah dan sebagainya.
Lebih seminggu aku
meninggalkan bangku perkuliahan untuk bersama keluarga kecilku di kampung.
Tapi, ayah meminta aku untuk kembali ke Bandung. Ayah tak ingin aku lama-lama
meninggalkan kampus. Perubahan pada ayah dapat aku rasakan. Kini, ayah sudah
mulai banyak makan dan berat badannya bertambah.
Sedikit demi sedikit
aku mulai mengikhlaskan semuanya. Aku bisikkan pada telinga Ibu untuk tetap
tegar dan mengikhlaskan kondisi yang ada. Ini rencana Tuhan, dan akan indah
pada waktunya. Ibu mengungkapkan rasa sedihnya pada ku. Ibu mengatakan bahwa
keluarga ayah 2 orang telah meninggal diikarenakan sakit. Dan kini ibu menjadi
takut kehilangan ayah.
Aku mencoba memberikan
semangat pada ibu. Aku katakan pada ibu, ayah akan selalu berada di samping
kita. Dan aku menitipkan peran ayah kepada Ibu. Dan aku yakinkan pada ibu
terbaik di dunia ini, untuk mampu menjadi sosok mandiri dan tabah. Hari itu pun
aku kembali ke Bandung. Sebelumnya aku kecup kening ayah dan aku tahan agar air
mata ini tidak jatuh ke wajahnya.
Perjuangan ku belum
berakhir teman. Aku masih harus memberikan kado selanjutnya untuk ayah. Walau
tidak mudah, aku akan selalu tetap berusaha. Kini aku di hadapkan pada
kompetisi selanjutnya. Aku mengikuti kompetisi menulis hukum yang di adakan
oleh Mahkamah Agung. Dalam perjuanganku yang kedua, aku di hadapkan pada sebuah
masalah.
Rekan satu tim ku
mengundurkan diri, dengan alasan yang tidak dapat di hindarkan. Perjuangan
hanya pada ku dan gemma. Namun, kami tidak putus disitu saja. Aku harus
membahagiakan ayah. ini komitmen yang harus tetap aku jaga.
Tuhan memberikan kado
kedua kepada kami. Aku kembali diberi kesempatan untuk menjadi pemenang. Di
kado yang kedua ini, akan aku berikan untuk ayah dan ibu. Dua sosok pahlawan
yang selalu berjuang untukku.
Kini aku mulai bahagia.
Kata Ibu ayah sudah banyak mengalami perubahan. Kini ayah sudah mulai bisa
jalan. Dan ayah semakin yakin akan sembuh. Dia katakan pada Ibu akan ke Bandung
dalam waktu dekat ini, karena Ia ingin melihat aku di wisuda. Ibu hanya
menganggukkan kepalanya saja. Karena ibu tahu bahwa aku masih semester IV, dan
masih jauh dari kesempatan wisuda. Tapi demi ayah, ibu hanya tersenyum.
Aku semakin semangat
memulai kehidupan ini. Aku, Ibu, dan Ayah tak akan pernah terpisahkan. Kini
kami masih berjuang. Aku akan berikan kado-kado selanjutnya pada ayah. Teman,
mungkin setiap orang punya ceritanya. Dan setiap orang berjuang untuk
cita-citanya. Bagiku, perjuangan ini belum berakhir. Aku masih ingin melihat ayahku
tersenyum tiap hari.
Aku belum siap
melepaskan ayah, tapi aku sudah mengikhlaskan pada apa yang terjadi. Jangan
sakiti mereka, dan tetaplah jaga perasaan mereka. Jangan renggut senyum mereka
dan kalian lemparkan rasa kecewa pada mereka. Apakah perjuangan mereka menjaga
dan merawat kita setimpal dengan nasi bungkus di warung termahal sekalipun?
Apakah kebahagiaan dapat di beli dengan sebongkah berlian?